Pasak Bumi dan Kemampuan Mengatasi Disfungsi Seksual

Menurut Olwin dan Walles (2005:1), akar pasak bumi secara tradisional dikonsumsi masyarakat sebagai: tonikum pascapartum, anti mikroba, antihipertensi, anti inflamasi, antipiretik, anti tumor, mengobati sakit perut, ulkus, malaria, disentri dan sebagai afrodisiak. Pamor pasak bumi sebagai afrodisiak sudah dikenal masyarakat mancanegara (Anonim, 2003:1). Akar merupakan bagian dari tumbuhan yang banyak mengandung alkaloid, saponin, dan quasinoid (Hasanah dkk, 2006:257).

Masalah fungsi seksual merupakan hal serius bagi kebanyakan pria. Beberapa masalah fungsi seksual yang dialami pria, antara lain libido yang rendah, disfungsi ereksi, dan ejakulasi dini. Di Indonesia, diduga kurang dari 10% pria menikah mengalami disfungsi ereksi (Info Kedokteran, 2011).
Libido adalah dorongan untuk melakukan aktivitas seksual (Pfaus dan Scepkowski, 2005). Gangguan libido atau gangguan gairah seksual didefinisikan sebagai defisiensi atau absennya fantasi seksual dan dorongan
untuk melakukan aktivitas seksual yang terjadi baik secara persisten ataupun rekuren dan dapat menyebabkan stress berat atau gangguan hubungan antarpersonal. Gangguan gairah seksual dapat disebabkan oleh faktor fisik,
salah satunya adalah kadar hormon testosteron yang rendah dan faktor psikologikal seperti kecemasan dan depresi (Kandeel et al., 2001).
Menurut data statistik, 20% pria berumur 60-80 tahun dan 33% pria berumur di atas 80 tahun memiliki nilai serum
hormon  testosteron bebas di bawah normal (Saragih, 2006). Data statistik tersebut memperlihatkan bahwa penurunan gairah seksual dialami oleh pria yang berumur di atas 60 tahun yang diakibatkan penurunan fungsi-fungsi fisiologis organ tubuh dibandingkan dengan pria berusia produktif.
Gangguan libido merupakan masalah penting dalam kehidupan seseorang, sehingga banyak inovasi yang dilakukan
untuk mengatasi nya, antara lain dengan pengobatan modern terapi hormon testosteron. Namun, pengobatan
tersebut memiliki beberapa efek samping terutama pada lansia dan dosis suprafisiologis menyebabkan penyakit kardiovaskuler, hipertensi, sleep apnea, benign  prostatic hyperplasia, bahkan kanker prostat (Wespes dan Schulman,
2002).
Adanya efek samping dari pengobatan tersebut, banyak orang mulai beralih ke pengobatan tradisional, yaitu dengan menggunakan tanaman yang berkhasiat afrodisiak. Afrodisiak adalah bahan yang berfungsi sebagai perangsang untuk meningkatkan libido. Beberapa contoh tanaman obat tradisional di Indonesia yang banyak digunakan sebagai afrodisiak adalah pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.), cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.), dan purwoceng (Pimpinella alpina  Molk.) (Rahardjo, 2010).
Berdasarkan penelitian, tanaman yang berkhasiat sebagai afrodisiak mengandung senyawa-senyawa turunan saponin, alkaloid, tannin, dan senyawa  lain yang secara fisiologis dapat memperlancar peredaran darah. Senyawa
dalam tanaman yang efektif sebagai afrodisiak juga dapat diketahui melalui mekanisme peningkatan kadar hormon gonadotropin, androgen, dan Nitric Oxide (Mills et al., 1996).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *