Mengenal Pasak Bumi/Tongkat Ali

Pasak bumi atau juga dikenal dengan sebutan Tongkat Ali, adalah salah satu hasil hutan non-kayu berupa tanaman obat. Tanaman ini tumbuh di hutan tropis. Akan tetapi tidak semua hutan tropis memiliki tanaman pasak bumi. Tanaman ini tumbuh di butan Kalimantan dan Malaysia.

Klasifikasi pasakbumi menurut Cronquist (1981)
Divisio : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Sub Class : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Simaroubaceae
Genus : Eurycoma
Species : Eurycoma longifolia Jack
Dengan nama species seperti ini Pasak Bumi di luar negeri disebut LongJack.
Pasak bumi merupakan tumbuhan perdu atau pohon kecil yang tingginyadapat mencapai 20 m. Daun pasak bumi berbentuk lanset dengan tepi rata berukuran 2,5 – 14,2 X 0,7 – 4,5 cm. Daun majemuk menyirip ganjil dengan jumlah anak daun11- 38 mengumpul pada ujung ranting. Bunga berwarna merah berbentuk malai dan berbulu. Buah berwarna kuning kemerahan ketika muda serta menjadi hitam pada saat tua. Pasak bumi termasuk tumbuhan beru
mah satu atau berumah dua (Hadad dan Taryono, 1998: Padua et al.,1999).
Pasak bumi adalah salah satu jenis tumbuhan obat yang merupakan tumbuhan asli Indonesia. Namun juga tersebar di hutan-hutan Malaysia, Thailand, Filiphina, Vietnam, dan Birma (Siregar et al ., 2003; Minorsky , 2004). Di Indonesia pasak bumi mempunyai beragam nama daerah antara lain ; pasak bumi (Kalimantan), widara putih
(Jawa), mempoleh (Bangka), besan (Sumut), tongkat ali (Aceh). Di Malaysia dikenal dengan sebutan tongkat ali, bedara merah, dan bedara putih. Sedangkan di Thailand dikenal dengan plaa-lai-pueak, hae pan chan, plaalai phuenk, dan phiak (Hadad dan Taryono,1998; Pandua et al.,1999). Tumbuhan ini menyukai tanah asam berpasir,

memiliki drainase tanah yang baik. Biasanya hidup di hutan dekat pantai, baik hutan primer atau sekunder. Ditemukan sampai ketinggian tempat 1000 m dari permukaan laut (Whitmore, 1992). Pasak bumi dapat dijumpai
pada daerah-daerah pungggung bukit atau pematang dan daerah berlereng (Nuryamin, 2000). Tumbuhan ini tumbuh pada temperatur rata-rata 250 C dengan kelembaban udara 86% setelah melalui masa muda tumbuhan ini
membutuhkan lebih banyak sinar matahari untuk membantu perkembangan vegetatif dan system reproduksinya. Pasak bumi berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Biasanya bunga mekar sekitar bulan juni sampai juli. Seme
ntara buahnya masak pada bulan September (Padua et al.,1999).
Kegunaan tumbuhan pasak bumi dalam pengobatan meliputi semua bagian tumbuhan. Akar pasak bumi biasa digunakan sebagai obat kuat, penurunan panas, antimalaria, dan disentri. Kulit dan batangnya digunakan untuk mengobati demam, sariawan, sakit tulang, cacing perut, serta sebagai tonik setelah melahirkan. Daunnya digunakan untuk mengobati penyakit gatal, sedangkan bunga dan buahnya bermanfaat dalam mengobati sakit kepala, sakit perut dan nyeri tulang (Hadad dan Taryono, 1998). Hasil analisis yang telah dilakukan oleh beberapa ahli baik dari Malaysia, Jepang, Thailand juga Indonesia menyatakan bahwa dalam akar pasak bumi terdapat kandungan kimia : (1) aervin, (2) kampesterol, (3) kantin-6-on,9-hidroksi, (4) kantin-6-on,9-hidroksi,n-oksida, (5) kantin-6-on,
9-metoksi, (6) kantin-6-on,9-metoksi,n-oksida, (7) karbolina, B-1-asid propionik, (8) karbolina, B-7-metoksi, 1-asid propionik, (9) eurikomalakton, (10) eurikomanol, (11) eurikomanol, 13-B-18-dihidro, (12) eurikomanol,-2-B-D-glukosida, (13) eurikomanon, (14) eurikomanona, 13-21-dihidro, (15) eurikomanona, 13-beta-21-dihidr

oksi, (16) klaineanon, 14-15-beta-dihidroksi, (17) klaineanon,14-15-dihidroksi, (18) longilaston, (19) B-sitosterol, (20) stigmasterol. Kegunaan kandungan kimia ini adalah: (1) untuk antimalaria; (12) mengatasi ulser, luka, demam dan
lemah, obat meroyan, bisul, tonik menguatkan badan; (11) untuk bisul, tonik menguatkan badan; (10) antipiretik; (13) mengatasi gusi berdarah; (14) sifilis, luka dan ulser (Kuoet al., 2004).
Namun hingga saat ini masyarakat lebih mengenal pasak bumi sebagai aprodisiaka (Padua et al., 1999.) dan khasiat ini telah dibuktikan dari pengujian laboratorium dengan menggunakan tikus jantan sebagai hewan percobaan. Pemberian fraksi kloroform, metanol, butanol, dan air dengan dosis 500 mg/ Kg BB selama 10 hari berturut-turut dapat meningkatkan gairah seksual (Anget al., 2003).
Pemberian fraksi kloroform, metanol, butanol dan air dengan dosis 500 mg/Kg BB akar pasak bumi selama 12 minggu dapat meningkatkan kualitas seksual dan mengurangi keragu-raguan pada tikus jantan middle-aged
untuk melakukan aktivitas seksual (Anget al.,2003) dan pada pemberian sediaan pada dosis 800 mg/Kg BB mampu meningkatkan libido tikus  jantan (Anget al., 2002). Hasil penelitian Ruqiah G.P.Panjaitan menunjukkan bahwa

pemberian fraksi metanol air akar pasak bumi dengan dosis 1000 mg/Kg BB menunjukkan aktivitas hepatoprot
ektor terhadap karbon tetraklorida.
Gambaran ultra struktur menunjukkan bahwa fraksi metanol air mampu melindungi sel-sel hati yang ditandai dengan tidak terjadi perubahan patologis pada membrane sel, membrane inti sel, mitokondria, dan reticulum endoplasmic (Ruqiah G.P. Panjaitan, 2008).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *